Finansial

Cara Mengatur Keuangan Keluarga Islam

100
×

Cara Mengatur Keuangan Keluarga Islam

Share this article
Mengatur Keuangan Keluarga Islam
Cara Mengatur Keuangan Keluarga Islam

Cara Mengatur Keuangan Keluarga Islam – Keuangan keluarga adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan berumah tangga. Bagaimana cara mengatur dan mengelola keuangan keluarga agar sesuai dengan syariah? Apa saja prinsip-prinsip dan tips yang harus diperhatikan dalam keuangan keluarga Islam? Bagaimana cara mengatasi masalah dan tantangan yang mungkin timbul dalam keuangan keluarga Islam? Artikel ini akan membahas semua hal tersebut secara lengkap dan mendalam.

Apa itu Keuangan Keluarga Islam?

Keuangan keluarga Islam adalah pengaturan dan pengelolaan keuangan rumah tangga yang dilakukan oleh suami dan istri sesuai dengan ajaran Islam. Keuangan keluarga Islam tidak hanya berkaitan dengan aspek materi, tetapi juga aspek spiritual, moral, dan sosial.

Keuangan keluarga Islam bertujuan untuk mencapai kesejahteraan, keadilan, dan kemaslahatan bagi anggota keluarga dan masyarakat.

Mengapa Keuangan Keluarga Islam Penting?

Keuangan keluarga Islam penting karena memiliki dampak yang besar terhadap kualitas hidup dan kebahagiaan keluarga. Keuangan keluarga Islam yang baik dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan dasar, menabung, berinvestasi, bersedekah, dan berzakat. Keuangan keluarga Islam yang baik juga dapat mencegah keluarga dari hutang, riba, korupsi, pemborosan, dan konflik. Keuangan keluarga Islam yang baik juga dapat meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bagaimana Cara Mengelola dan Mengatur Keuangan Keluarga Islam?

Untuk mengatur dan mengelola keuangan keluarga Islam, ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:

Menetapkan Visi, Misi, dan Tujuan Keuangan Keluarga

Langkah pertama adalah menetapkan visi, misi, dan tujuan keuangan keluarga. Visi adalah gambaran umum tentang keadaan ideal yang ingin dicapai oleh keluarga.

Misi adalah pernyataan singkat tentang nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan komitmen yang menjadi pedoman keluarga. Tujuan adalah hasil yang spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis, dan berbatas waktu yang ingin dicapai oleh keluarga.

Menarik Juga  Nikmatnya Belanja, Rekomendasi Kartu Kredit untuk Transaksi Melalui E-Commerce

Contoh visi keuangan keluarga Islam adalah: “Kami ingin menjadi keluarga yang
sejahtera, berkah, dan bermanfaat bagi sesama.”

Contoh misi keuangan keluarga Islam adalah: “Kami mengatur dan mengelola keuangan keluarga kami sesuai dengan syariah, dengan menjauhi riba, berhemat, berinvestasi, bersedekah, dan berzakat.”

Contoh tujuan keuangan keluarga Islam adalah: “Kami ingin memiliki tabungan sebesar Rp 100 juta dalam satu tahun, memiliki rumah sendiri dalam lima tahun, dan memiliki haji mabrur dalam sepuluh tahun.”

Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga

Langkah kedua adalah menyusun anggaran keuangan keluarga. Anggaran keuangan keluarga adalah rencana tertulis tentang pendapatan dan pengeluaran keluarga dalam periode tertentu, biasanya bulanan. Anggaran keuangan keluarga harus mencakup semua sumber pendapatan, seperti gaji, bisnis, hasil investasi, dan lain-lain. Anggaran keuangan keluarga juga harus mencakup semua jenis pengeluaran, seperti makanan, sandang, papan, transportasi, pendidikan, kesehatan, hiburan, dan lain-lain.

Anggaran keuangan keluarga harus disusun secara realistis, berdasarkan data dan fakta yang ada. Anggaran keuangan keluarga juga harus disesuaikan dengan prioritas dan kebutuhan keluarga. Anggaran keuangan keluarga harus dibuat bersama-sama oleh suami dan istri, dengan saling konsultasi, musyawarah, dan mufakat. Anggaran keuangan keluarga harus dijadikan sebagai pedoman dan alat kontrol dalam mengatur dan mengelola keuangan keluarga.

Menyisihkan Dana Darurat

Langkah ketiga adalah menyisihkan dana darurat. Dana darurat adalah dana yang disiapkan untuk menghadapi situasi darurat atau tidak terduga, seperti sakit, kecelakaan, bencana, atau kehilangan pekerjaan. Dana darurat sebaiknya setara dengan tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin keluarga. Dana darurat harus disimpan di tempat yang aman, mudah diakses, dan tidak berisiko, seperti rekening tabungan atau deposito.

Menyisihkan untuk Tabungan

Tabungan adalah dana yang disimpan untuk memenuhi tujuan jangka pendek atau menengah, seperti membeli barang, berlibur, atau membayar utang. Tabungan sebaiknya setara dengan 10% hingga 20% dari pendapatan bulanan keluarga. Tabungan dapat disimpan di tempat yang aman, mudah diakses, dan memberikan bunga, seperti rekening tabungan atau deposito syariah.

Menyisihkan untuk Investasi

Investasi adalah dana yang ditanamkan untuk memperoleh keuntungan atau pertumbuhan modal dalam jangka panjang, seperti membeli saham, obligasi, properti, atau bisnis. Investasi sebaiknya setara dengan 10% hingga 20% dari pendapatan bulanan keluarga. Investasi harus dilakukan dengan bijak, berdasarkan risiko, return, dan jangka waktu yang sesuai. Investasi juga harus dilakukan dengan halal, sesuai dengan syariah, dan tidak melibatkan riba, gharar, maysir, atau haram lainnya.

Menarik Juga  Bingung Atasi Keuangan? Simak Cara Mengatasi Keuangan Keluarga

Menyisihkan untuk Sedekah

Sedekah adalah dana yang diberikan kepada orang lain yang membutuhkan, seperti fakir, miskin, yatim, janda, atau musafir. Sedekah sebaiknya setara dengan 2,5% hingga 10% dari pendapatan bulanan keluarga. Sedekah dapat diberikan secara langsung, melalui lembaga amil, atau melalui program sosial. Sedekah harus dilakukan dengan ikhlas, tanpa riya, sum’ah, atau ujub. Sedekah juga harus dilakukan dengan hikmah, tanpa menyakiti, merendahkan, atau menghina penerima.

Menyisihkan untuk Zakat

Zakat adalah dana yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang memiliki harta yang mencapai nisab dan haul, sesuai dengan syarat dan rukun yang ditetapkan oleh syariah. Zakat sebaiknya setara dengan 2,5% dari harta yang dizakati, seperti emas, perak, uang, ternak, hasil pertanian, atau perdagangan.

Zakat harus dikeluarkan setiap tahun, pada waktu yang ditentukan, kepada delapan asnaf yang berhak menerima, seperti fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, atau ibnu sabil.

Mengevaluasi dan Menyesuaikan Keuangan Keluarga

Langkah keempat adalah mengevaluasi dan menyesuaikan keuangan keluarga. Evaluasi adalah proses membandingkan antara rencana dan realisasi keuangan keluarga dalam periode tertentu, biasanya bulanan. Evaluasi bertujuan untuk mengukur kinerja, menemukan masalah, dan mencari solusi. Evaluasi harus dilakukan secara objektif, berdasarkan data dan fakta yang ada. Evaluasi juga harus dilakukan secara bersama-sama oleh suami dan istri, dengan saling memberi masukan, saran, dan kritik yang membangun.

Penyesuaian adalah proses mengubah atau memperbaiki rencana keuangan keluarga sesuai dengan kondisi dan situasi yang terjadi. Penyesuaian bertujuan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kualitas keuangan keluarga. Penyesuaian harus dilakukan secara fleksibel, berdasarkan perubahan dan perkembangan yang ada. Penyesuaian juga harus dilakukan secara bersama-sama oleh suami dan istri, dengan saling berkoordinasi, berkomunikasi, dan beradaptasi.

Kesimpulan

Keuangan keluarga Islam adalah pengaturan dan pengelolaan keuangan rumah tangga yang dilakukan oleh suami dan istri sesuai dengan ajaran Islam. Keuangan keluarga Islam penting karena memiliki dampak yang besar terhadap kualitas hidup dan kebahagiaan keluarga.

Untuk mengatur dan mengelola keuangan keluarga Islam, ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu menetapkan visi, misi, dan tujuan keuangan keluarga, menyusun anggaran keuangan keluarga, menyisihkan dana darurat, tabungan, investasi, sedekah, dan zakat, serta mengevaluasi dan menyesuaikan keuangan keluarga. Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, keluarga dapat mencapai kesejahteraan, keadilan, dan kemaslahatan, baik di dunia maupun di akhirat.

FAQ

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan tentang keuangan keluarga Islam, beserta jawabannya:

Q: Apa perbedaan antara keuangan keluarga Islam dan keuangan keluarga
konvensional?

A: Keuangan keluarga Islam berbeda dari keuangan keluarga konvensional dalam hal sumber, tujuan, prinsip, dan metode. Keuangan keluarga Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, bertujuan untuk mencapai ridha Allah, mengikuti prinsip-prinsip syariah, dan menggunakan metode-metode halal. Keuangan keluarga konvensional bersumber dari hukum positif, bertujuan untuk mencapai kepuasan diri, mengikuti prinsip-prinsip ekonomi, dan menggunakan metode-metode yang mungkin mengandung riba, gharar, maysir, atau haram lainnya.

Menarik Juga  5 Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga dengan Gaji 1 Juta

Q: Bagaimana cara menentukan nisab dan haul zakat?

A: Nisab adalah batas minimal harta yang wajib dizakati, sedangkan haul adalah batas minimal waktu kepemilikan harta yang wajib dizakati. Nisab dan haul zakat berbeda-beda tergantung jenis harta yang dizakati. Secara umum, nisab zakat emas adalah 85 gram, nisab zakat perak adalah 595 gram, nisab zakat uang adalah setara dengan nisab zakat emas atau perak, nisab zakat ternak adalah 40 ekor untuk kambing atau domba, 30 ekor untuk sapi atau kerbau, dan 5 ekor untuk unta, nisab zakat hasil pertanian adalah 653 kg untuk tanaman yang disirami dengan air hujan atau sungai, dan 520 kg untuk tanaman yang disirami dengan air sumur atau pompa, dan nisab zakat perdagangan adalah setara dengan
nisab zakat uang. Haul zakat untuk semua jenis harta adalah satu tahun hijriyah atau 354 hari.

Q: Apa saja jenis-jenis investasi syariah yang dapat dilakukan oleh keluarga
Islam?

A: Jenis-jenis investasi syariah yang dapat dilakukan oleh keluarga Islam antara lain adalah saham syariah, obligasi syariah (sukuk), reksa dana syariah, asuransi syariah (takaful), properti syariah, emas syariah, dan bisnis syariah. Investasi syariah adalah investasi yang sesuai dengan syariah, yaitu tidak melibatkan riba, gharar, maysir, atau haram lainnya, serta memiliki unsur-unsur seperti akad, niat, kerjasama, keadilan, dan transparansi.

Q: Bagaimana cara mengatasi masalah keuangan keluarga, seperti hutang,
defisit, atau konflik?

A: Cara mengatasi masalah keuangan keluarga, seperti hutang, defisit, atau konflik, antara lain adalah sebagai berikut:

  • Mengakui dan mengidentifikasi masalah secara jujur dan terbuka
  • Mencari penyebab dan akibat masalah secara objektif dan rasional
  • Mencari solusi dan alternatif masalah secara kreatif dan inovatif
  • Menentukan dan melaksanakan solusi secara bersama-sama dan konsisten
  • Mengevaluasi dan menyesuaikan solusi secara berkala dan fleksibel
  • Meminta bantuan dan dukungan dari pihak lain yang kompeten dan terpercaya,
    seperti keluarga, teman, ulama, atau konsultan keuangan
  • Berdoa dan beristighfar kepada Allah, serta bersabar dan bersyukur atas
    segala ujian dan nikmat yang diberikan

Q: Apa saja sumber-sumber referensi yang dapat digunakan untuk mempelajari
lebih lanjut tentang keuangan keluarga Islam?

A: Sumber-sumber referensi yang dapat digunakan untuk mempelajari lebih lanjut tentang keuangan keluarga Islam antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Al-Qur’an dan Sunnah, sebagai sumber utama dan otoritatif tentang ajaran
    Islam, termasuk tentang keuangan keluarga
  2. Kitab-kitab fiqih, sebagai sumber sekunder dan penjelas tentang hukum-hukum
    syariah, termasuk tentang zakat, riba, dan investasi
  3. Buku-buku dan artikel-artikel tentang keuangan keluarga Islam, sebagai
    sumber tersier dan aplikatif tentang konsep, prinsip, dan praktik keuangan
    keluarga Islam
  4. Website-website dan media sosial tentang keuangan keluarga Islam, sebagai
    sumber kuartener dan aktual tentang informasi, inspirasi, dan edukasi
    keuangan keluarga Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *