Finansial

Perhitungan Anggaran Keuangan Pesimis dan Optimis

14
×

Perhitungan Anggaran Keuangan Pesimis dan Optimis

Share this article
Perhitungan Anggaran Keuangan
Perhitungan Anggaran Keuangan Pesimis dan Optimis
Perhitungan Anggaran Keuangan – Dalam sebuah keuangan, perhitungan anggaran keuangan merupakan salah satu hal penting yang tidak boleh ditinggalkan. Sebab dampak yang ditimbulkan dari perhitungan keuangan ini sangatlah besar demi mewujudkan kesehatan finansial.

Perhitungan Anggaran Keuangan

Dalam buku “Millionare Next Door“, Danko dan Stanley telah menyatakan bahwa hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa orang kaya meluangkan waktunya untuk membuat dan memeriksa anggaran dua kali lebih banyak daripada orang biasa.

Hal ini menunjukkan bahwa pembuatan anggaran keuangan untuk pribadi ataupun keluarga merupakan salah satu proses yang penting dalam mengelola keuangan kita.

Namun, karena dalam pembuatan anggaran kita mesti memperkirakan masa depan, terkadang kita tidak tahu pasti berapa pendapatan ataupun berapa pengeluaran untuk salah satu bidang. Terkadang kita hanya bisa memperkirakan dalam satu rentangan nilai.

Misalkan saja kita tidak tahu harga pasti dari Paket Liburan yang hendak kita beli untuk liburan Desember nanti. Namun kita bisa memperkirakan bahwa harganya sekitar Rp. 3.000.000 – Rp. 5.000.000 per orang.

Nah, dalam artikel kali ini, kita mempelajari mengenai cara untuk memasukan nilai-nilai seperti ini ke dalam anggaran kita.

Manfaat Perhitungan Anggaran Keuangan

Perhitungan anggaran memiliki beberapa manfaat untuk mewujudkan finansial yang sehat dalam kondisi pribadi maupun keluarga. Berikut beberapa manfaat perhitungan anggaran:

  1. Arus keuangan lebih terjaga
  2. Kejelasan kegunaan anggaran dari pendapatan
  3. Menjaga stabilitas laporan keuangan
  4. Menjadikan lebih disiplin keuangan
  5. Lebih mudah dalam melakukan evaluasi
  6. Mudah untuk diterapkan
  7. Meningkatkan kesadaran untuk menabung atau investasi
Dari beberapa manfaat tersebut, maka perhitungan anggaran perlu untuk Anda pertimbangkan apabila pendapatan bulanan sudah masuk pada dompet Anda.

Pembagian Perhitungan Anggaran Keuangan

Dalam anggaran keuangan, perhitungan anggaran keuangan dibagi menjadi dua bagian. Perhitungan Anggaran Keuangan Optimis dan Pesimis. Pada setiap perhitungan tersebut memiliki kegunaan masing-masing. Berikut penjelasan pehitungan anggaran keuangan beserta contohnya:

Perhitungan Anggaran Keuangan Pesimis Digunakan Untuk Anggaran Pendapatan

Misalkan saja Mbak Fika bekerja sebagai designer part time dari perusahaan baju. Bayarannya dihitung berdasarkan jumlah design yang diterima. Untuk setiap design, Mbak Fika menerima sekitar  Rp. 150.000,-.

Menarik Juga  Cara Menabung Gaji 3 Juta beserta Contohnya

Setiap minggu Mbak Fika membuat 10 design, dan biasanya perusahaannya menerima sekitar 30%-50% dari design Mbak Fika.

Sekarang mari kita hitung perkiraan pendapatan Mbak Fika per bulannya. Setiap minggu Mbak Fika membuat 10 design, kita asumsikan dalam sebulan terdapat 4 minggu, jadi per bulan Mbak Fika membuat 40 design. Perusahaan menerima sekitar 30% hingga 50% dari design Mbak Fika, dengan kata lain jumlah design yang diterima adalah sekitar 12 hingga 20 design.

Dengan dikalikan Rp. 150.000,-, maka kita mendapatkan bahwa perkiraan  penghasilan bulanan Mbak Fika adalah Rp. 1.800.000,- hingga Rp. 3.000.000,-.

Nah, dalam membuat anggaran untuk pendapatan seperti ini, Mbak Fika harus mempergunakan perhitungan pesimis. Artinya? Dalam rentangan  hasil perhitungan (Rp. 1.800.000,- hingga Rp. 3.000.000), Mbak Fika mengambil angka yang paling kecil untuk dimasukkan ke dalam anggarannya.

Dalam hal ini, dalam anggaran Mbak Fika tercantum bahwa pendapatan bulanannya adalah Rp. 1.800.000.

Mengapa kita mengambil angka yang paling kecil dalam anggaran pendapatan kita? Tujuannya adalah agar dalam merencanakan belanja, kita membuat rencana yang tidak membelanjakan lebih dari  Rp. 1.800.000.

Bagaimana kalau ternyata pendapatan bulan ini adalah Rp. 3.000.000? Sementara kita hanya membuat rencana belanja Rp. 1.800.000? Nah, kalau ini sampai terjadi artinya Mbak Fika memiliki uang lebih sebanyak Rp. 1.200.000. Uang ini bisa ditabung atau digunakan untuk keperluan lain.

Di sisi lain, apabila Mbak Fika menuliskan pendapatan Rp. 3.000.000 pada anggarannya, dan membuat anggaran belanja sebesar Rp. 3.000.000,- juga. Mbak Fika akan kelabakan apabila ternyata penghasilannya pada saat itu Rp. 1.800.000,-.

Terjadi kekurangan uang sebesar Rp. 1.200.000,-. Dan kalau kekurangan ini terjadi pada pos pengeluaran yang penting, maka mau gak mau Mbak Fika harus berhutang atau menjual assetnya untuk menutupi biaya  tersebut.

Menarik Juga  Mengapa Gaji Cepat Habis? Berikut Penyebab dan Tips Mengatasinya

Jadi dalam pembuatan anggaran pendapatan dan pengeluaran pribadi ataupun keluarga, kita perlu menyadari bahwa prinsipnya lebih baik terjadi kelebihan uang daripada kekurangan uang. Untuk mencegah agar tidak terjadi kekurangan uang, maka untuk memperkirakan pendapatan kita menggunakan perhitungan pesimis. Ambilah angka yang paling kecil.

Perhitungan Anggaran Keuangan Optimis Digunakan Untuk Anggaran Biaya

Biaya masuk Universitas Z didasarkan pada nilai yang diperoleh calon mahasiswa pada saat ujian masuk. Untuk Grade A, biaya masuknya adalah Rp. 14.000.000, untuk Grade B, biaya masuknya adalah Rp. 12.000.000,-, untuk Grade C biaya masuknya adalah Rp. 10.000.000,- sementara untuk Grade D biaya masuknya adalah Rp. 8.000.000,-.

Anak dari Pak Ali akan memasuki Universitas Z pada tahun mendatang. Berapakah jumlah uang yang harus disiapkan oleh Pak Ali dengan asumsi tidak ada peningkatan biaya masuk Universitas Z?

Nah, kebalikan dari anggaran pendapatan, untuk memperkirakan biaya kita harus mempergunakan perhitungan optimis. Ambilah nilai yang paling besar. Dalam kasus diatas, jawabannya sederhana. Pak Ali harus menyediakan uang sebesar Rp. 14.000.000,- untuk uang masuk ke Universitas Z.

Sekarang pertanyaannya, apabila Pak Ali sudah menyediakan uang sebesar Rp. 15.000.000,-, dan ternyata anaknya lulus ujian masuk dengan grade C. Apa yang terjadi? Tidak ada masalah. Sang anak berhasil menghemat biaya masuk kuliah sebesar Rp. 5.000.000,-.  Uang ini bisa dialokasikan untuk keperluan lainnya. Pak Ali bisa saja membelikan hadiah sebagai reward kepintaran anaknya.

Di sisi lain, bagaimana jika Pak Ali hanya menyediakan uang sebesar Rp. 8.000.000,- lalu ternyata anaknya hanya mendapat  Grade A dalam ujian masuk Universitas Z? Disini baru terjadi masalah. Uang Pak Ali tidak cukup untuk membayar uang masuk universitas.

Menarik Juga  3 Rekening Dana Untuk Anak yang Harus Orang Tua Ketahui

Biasanya masalah seperti ini diselesaikan dengan cara berhutang, mejual asset, atau mencari universitas lain. Dalam kasus terburuk, sang anak tidak jadi kuliah. Tentunya kita semua tidak ingin hal ini sampai terjadi.

Kembali ke prinsip pembuatan anggaran tadi, lebih baik terjadi kelebihan uang daripada kekurangan uang. Dalam perhitungan biaya atau pengeluaran kita harus menggunakan cara optimis. Ambilah perkiraan biaya yang paling tinggi. Dengan cara seperti ini kita akan terhindar dari masalah keuangan.

Kesimpulan

Setelah mengetahui perhitungan diatas, kini kita dapat memperhitungkan anggaran pendapatan maupun anggaran biaya demi meweujudkan keuangan yang sehat. Pada awalnya mungkin akan terasa sedikit lebih sulit, namun lama-kelamaan pasti akan terasa mudah.

Perhitungan anggaran akan menjadikan sebuah kewajiban dalam mencatat keuangan. Dengan demikian, segala pendapatan yang masuk akan dapat terhitung dengan jelas disetiap menerima pendapatan gaji ataupun uang.

Demikian pembahasan mengenai perhitungan optimis dan pesimis dalam anggaran keuangan. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Jangan lupa bagikan satu kebaikan dengan membagikan artikel ini ke media sosial lainnya. Terima kasih banyak telah berkunjung dan membaca di blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *